Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Hengky Dj

Surabaya Menghitam

Langit  Surabaya ,  Sudah diambang petang kala senja hampir raib diubun perempuan berambut putih itu.   Aku pernah mendengar bahwa surgaku ada dibawa telapak kaki ibu? Sampai dewasa ini pula aku masih berangan-angan membayangkan  surga itu seperti apa? bertambah sudah angka di kepala. bahwa pada akhirnya  tak ada yang tunggal, bahwa kembali itu berati pulang “ kala aku ingat petikan puisi dari Mbah Joko Pinurbo dalam puisi kamus kecilnya yang dibacakan tempo lalu di salah satu acara televisi. Malam menjemput bersama kumandang adzan magrib, lamunanku merintih bersama teriakan gagak- gagak bahwa rasanya  aku masih ingin berloncat seperti bocah, menikmati hari minggu dan bermain tanah liat, mendamba dengan mata yang sayu saat masih dipangku,  menyusu dengan jiwa polos dan suci. Waktu mengajak berlari di atas aspal Surabaya masih terasa begitu panas oleh  kuda kuda besi yang simpang siur merambat seperti air mengalir. Panda...

Akhirnya Neraka telah jatuh

Segala risau, membunuhku perlahan dalam kelamunan, banyak hal yang tak bisa aku ungkap dalam omongan, Melihat kerapuhan dan penghianatan rasanya aku ingin sekali ketemu dewa sinigami dan meminjam  Death Note nya,, Ha-ha-ha lelucon apa yang aku bicarakan. Aku mencoba beropini di atas hati yang tak menentu, Sialan lagi aku tidak menemukan jawaban apapun atas apa yang terjadi. Sial sial sial Oh shit Neraka macam ini.  Aku teringkat saat si Tua berkata jujur kepadaku sudah waktunya engkau belajar mati sementara tidur tanpa bermimpi, tidur tanpa bantal atau selimut Engkau mungkin tenang.. Anjing saran apa ini..? Dimana surga aku mau ke sana kataku pada si Tua yang telah mau pergi? Ada dibawa saat kau sentuhkan keningmu yang manja.

Malam Jatuh di Surabaya

Soal lagu setiap orang punya selera -masing masing, sialan aku juga tidak tau bagaimana aku tiba tiba bisa menyukai suatu lagu hanya sekali dengar, lewat teman saya seorang penulis kelas gaib ,,memutarkan lagu di atas meja kopinya cak mad, "Gelanggang ganas 5: 15, di Ahmad Yani yang beringas. Sinar kuning merkuri: pendar celaka akhir hari. Malam jatuh di Surabaya" Berikut kutipan singkat lirik dari band asli suroboyoan,, Gilaa lirik yang tak seperti biasanya,,terlebih lagi aku tipe orang penikmat sastra.. Lagu itu membuat kopi yang kuseduh seperti menembus ubun ubun ku. Saking enak dan dalamnya aku berkata jancukk, sinting ini lagu. Kini setiap sore di atas bisingya aspal Surabaya,,obat terbaik adalah lagu ini saat letih mampir di badan. Lagu dengan penuh syarat makna Sampai Tuhan kalah diriuh jalan Selamat malam cuk.. Malam mu telah jatuh disurabaya

Surabaya Menghitam

  Langit  Surabaya ,  Sudah diambang petang kala senja hampir raib diubun perempuan berambut putih itu, Aku pernah mendengar bahwa surgaku tak mungkin akan lari? Sampai dewasa pula aku masih berangan surga itu seperti apa? bertambah sudah angka di kepala. bahwa tak ada tunggal, bahwa kembali berati pulang. kalau rasa masih ingin berloncat seperti bocah, menikmati hari minggu dan bermain dengan tanah liat, mendamba dengan mata yang sayu saat masih di pangku dan menyusu dengan jiwa jiwa kesucian, sebelum waktu meledak membelah dada dan memisahkan antara ku dan nya, menginjak , mencaci, merusak dan bahakan membunuh di atas kesadaran, bahwa  semua arus akan menuju pada satu titik bernama "pilihan". waktu mengajak berlari diatas aspal Surabaya masih terasa begitu panas menyaksikan jalanan yang berisik.  kuda kuda besi simpang siur merambat seperti air mengalir.

Kisah Kucing Jalanan

Dalam pekat malam tangisan dan jerit membumbung   mengisi dalam tiap gang-gang kecil di negeriku para kucing hitam dan anaknya mengais tulang-tulang pada   tong sampah dipingiran jalanan langit negeri tak kuasa membendung air mata bercampur bersama isap tangis kucing jalanan. tak ada rumah dan  makan untuk mereka karena keserakahan dan kekuasan sang singa raja tak merasa dan membuka mata ia telan daging dn tulangnya tanpa memperhatikan memperdulikan dan menyisahkan untuk mereka Dalam hutan rimba siapa yg berkuasa pasti jadi juara tak adil sungguh tak adil bagimana singa bisa melihat sedangkan ia sibuk dengan tidur dan kemalasannya. daun daun mereka makan tubuh kurus kering, meronta sepanjang jalanan harapan dan harapan yg selalu mereka nantikan tangis langit bercampur gemuruh petir menyentak dan menakutkan para kucing berteduh di kolom kolom jembatan  mereka ketakutan Negeri yang kehilangan cita rasa dan makna Benalu - benalu y...

Penjelajah Udara

Ketika sang kuasa telah berkehendak pada sang petualang udara kala ujian menyisahkan duka lara. Pada hamparan lautan yang menjadikan kanvas cerita. Burung besi terbang tinggi dan turun kembali tuhan telah rindu dan ingin memanggil untuk kembali kesisinya lagi. Kehilangan yang berpadu derai air mata Saudaraku kuatkan hati, karena mereka telah pulang kesurga. Tingginya langit dan dalamnya lautan tak menghalangi lantunan doa kita. Kini Langit negeri berhujan akan air mata Yakinlah selalu ada hikmah dibalik setiap musibah yang ada. Takdir kehidupan ada pada kehendaknya. Sekuat, secanggih apapun kita ingatlah tak ada yang bisa mengalahkan kuasanya. Mari intropeksi diri terhadap apa yang terjadi Karena sejatinya didunia ini Tak ada yang abadi Lebih berhati - berhati karena maut adalah misteri dan kapanpun bisa terjadi. Sang petualang udara telah pulang dibandhara sang kuasa. Awan,angin gelombang dan lautan pun hanyalah menjadi perantaranya. Hukuman atau ujian? tap...

Gubuk

Aku kembali tersenyum sinis diatas gubuk itu Sambil melihat mentari sore yg tak lama lagi kan segera berlalu. hembusan angin melambai membuat rerumputan dan dedaunan menari meliuk-liuk. sejenak ku coba memejamkan mata dan kembali ku tatap langit sungguh indah.... lalu kusapa perlahan...padamu yang sedang sakit..di gubuk kecil ini lah...aku dan mereka merintih dalam tangis tanpa air mata, kepadamu yag selalu kami banggakan... Apa kabar negeriku???... sudahkah sembuh luka2 keegoisan dalam hukum dan keadilan sudahkah siuman dr tidur yg berkepanjangan.dan tak lupa ku sapa teman karibku  korupsi bagaimna kabarmu ? Aku harap kau tak lagi memiliki kabar. Oh ya tak lupa juga padamu idaman Wahai narkoba apa kabarmu? Aku harap segeralah musnah aku tak ingin melihatmu lagi. Sore itu aku masih duduk terpaku,, Mungkinkah aku masih bisa melihat tanah surga. Atau sekedar menyaksikan Pelangi di usia rumahku yang sudah 70 tahun. Akulah si kecil dengan deri...

ES TEH

Sejenak untuk sesaat sembari menghilangkan dahaga kuminum es teh manis ini semilir angin menyapu mendung diatas ubun-ubunku terdiam lalu ku bisikan pada alam ‘’ada apa dengan negeriku adik-adiku yang masih belum merasakan manisnya madu pendidikan saudaraku yang mampu melihat namun buta dan membutuhkan tongkat tentang apa itu korupsi,pembunuhan,dan keadilan kemudian tangan membawaku menjamah beberapa lembaran kertas Aku baca dan betapa kaget seorang ibu tega membunuh anaknya lembaran itu aku remas sekuat mungkin        seperti aku ingin memukul kebiadabbanya      lalu tak lama barisan bala tentara semut berjejer dengan rapinya hanya karena aku menjatuhkan sebutir gula negeri semut ini sungguh asyik dan manis banyak ingin mendapatkan sebutir gula tapi mereka dapat berjalan dalam baris yang rapi tanpa saling sikut dan pukul bagaimana dengan negeriku,entahlah ! kini Cahaya senja mulai redup betapa cepat perputaran dar...

Lawang Duwur

Allah Maha Pembuka Pintu Hati"   Aku akan bahagia karena aku adalah sang penyair, seorang penyair bersandiwara dengan fitrahnya. Ia akan merasakan kenikmatan dengan memakai pakaian yang bukan jubahnya, menampakkan perasaan jiwa yang bukan suara hatinya. Ia berperan sebagai orang 'gila', padahal ia cerdas. Berperan sebagai pengecut, padahal ia berani. Berperan bahagia padahal ia... menderita. Ia juga dapat berperan sebagai pecinta, yang menekan getaran cinta dihati untuk kebahagiaan orang lain.   Ia akan mendengar suara kalbuku yang terucap dari mulutmu, merasakan jiwa dan ruhku dari tubuhmu. Meminum perasaan sukmaku dengan gelasmu, menyanyikan irama laguku dari kenyaringan suaramu.   Aku hidup bebas, tertawa dan menangis sesuka hatiku. Bebas mengatur langkah-langkahku, mengangkat kepala dan berahasia, serta menulis kasidah sesuka hatiku. Aku juga bebas meninggalkan karya-karyaku tanpa harus menyesal. Aku bebas melahirkan kasidah tanpa tergantung pujian dari sastrawan ...