Langit Surabaya, Sudah diambang petang kala senja hampir raib diubun perempuan berambut putih itu,
Aku pernah mendengar bahwa surgaku tak mungkin akan lari? Sampai dewasa pula aku masih berangan surga itu seperti apa? bertambah sudah angka di kepala. bahwa tak ada tunggal, bahwa kembali berati pulang. kalau rasa masih ingin berloncat seperti bocah, menikmati hari minggu dan bermain dengan tanah liat, mendamba dengan mata yang sayu saat masih di pangku dan menyusu dengan jiwa jiwa kesucian,
sebelum waktu meledak membelah dada dan memisahkan antara ku dan nya, menginjak , mencaci, merusak dan bahakan membunuh di atas kesadaran, bahwa semua arus akan menuju pada satu titik bernama "pilihan". waktu mengajak berlari diatas aspal Surabaya masih terasa begitu panas menyaksikan jalanan yang berisik. kuda kuda besi simpang siur merambat seperti air mengalir.
Saya mulai dari sebuah unek-unek yang seperti rajutan benang tumpang tindih, bahwa saya tumbuh dan besar dengan ketakutan terhadap sekolah dan guru, terlebih bila dihadapkan pelajaran seperti matematika, kimia dan fisika membuat hari-hari sekolah serasa memasuki film “ final Destination” mengerikan..! Pada SMA aku masuk jurusan IPS yang selau di cap berisik dan suka bikin onar dan sampai titik ini ketakuttanku dengan sekolah dan guru sudah nyaris tidak ada, tapi matematika masih menjelma bak boneka Annabelle, membuat merinding dan ingin lari saja. SMA dengan berbagai hal dan kisah menarik yang aku alami bersama teman-teman, guru, cewe yang aku sukai namun tak pernahi sampai, penjaga kantin sampai tukang jual pentol yang stay di masjid saat jam istirhat, pada fase inilah aku mulai menyusun dan melihat jika nanti sudah lulus mau apa dan jadi apa?.. dan aku menyadari pilihan-pilihan itu lebih sulit dan lebih menakutkan dibandingkan ruwetnya rumus matema...
Comments
Post a Comment