Skip to main content

Gubuk

Aku kembali tersenyum sinis diatas gubuk itu
Sambil melihat mentari sore yg tak lama lagi kan segera berlalu.
hembusan angin melambai membuat rerumputan dan dedaunan menari meliuk-liuk.
sejenak ku coba memejamkan mata dan kembali ku tatap langit
sungguh indah....
lalu kusapa perlahan...padamu yang sedang sakit..di gubuk kecil ini lah...aku dan mereka merintih dalam tangis tanpa air mata,


kepadamu yag selalu kami banggakan...

Apa kabar negeriku???...
sudahkah sembuh luka2 keegoisan dalam hukum dan keadilan
sudahkah siuman dr tidur yg berkepanjangan.dan tak lupa ku sapa teman karibku 
korupsi bagaimna kabarmu ?
Aku harap kau tak lagi memiliki kabar.
Oh ya tak lupa juga padamu idaman
Wahai narkoba apa kabarmu? Aku harap segeralah musnah aku tak ingin melihatmu lagi.
Sore itu aku masih duduk terpaku,,
Mungkinkah aku masih bisa melihat tanah surga.
Atau sekedar menyaksikan Pelangi di usia rumahku yang sudah 70 tahun.
Akulah si kecil dengan derita yang selalu bangga.
Langit nampak cerah namun Gerimis menetes.bercampur dengan tetesan yang keluar dari mataku.
Dan kulihat pelangi bersinar diatas bendera yang kukibarkan diatas gubuk kecilku..
Kuberi hormat dengan dada membusung agar dunia tau bahwa aku masih bisa berdiri... Aku sedikit lelah, kuminum es teh yg kubawa dari rumah.sejurus kemudian kubuang bungkus minumanku
"Negeriku tak semanis es teh yg kuminum.

Comments

Popular posts from this blog

Merajut Benang Merah

Saya mulai dari sebuah unek-unek yang seperti rajutan benang tumpang tindih, bahwa saya tumbuh dan besar dengan ketakutan terhadap sekolah dan guru, terlebih bila dihadapkan   pelajaran seperti matematika, kimia dan fisika membuat hari-hari sekolah serasa memasuki film “ final Destination” mengerikan..! Pada SMA aku masuk jurusan IPS yang selau di cap berisik dan suka bikin onar dan sampai titik ini ketakuttanku dengan sekolah dan guru sudah nyaris tidak ada, tapi matematika masih menjelma bak   boneka Annabelle, membuat merinding dan ingin lari saja. SMA dengan berbagai hal dan kisah menarik yang aku alami bersama teman-teman, guru, cewe yang aku sukai   namun tak pernahi sampai, penjaga kantin sampai tukang jual pentol yang stay di masjid saat jam istirhat, pada fase inilah aku mulai menyusun dan melihat jika nanti sudah lulus mau apa dan jadi apa?.. dan aku menyadari pilihan-pilihan itu lebih sulit   dan lebih menakutkan dibandingkan ruwetnya rumus   matema...

Mereka Rindu Segala Hal Tentang Sekolah

SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi, dahulu keempat jenjang Pendidikan hidup dengan damai, namun semuanya berubah saat Covid 19 menyerang. Hanya antivirus yang mampu mengendalikan covid 19 dan menghentikannya. Namun saat dunia membutuhkanya, dia belum ditemukan..   Pasca covid 19   menjadi sebuah pandemi, yang menghebohkan jagad raya, banyak tatanan hidup yang semerawut dan tak karuan mulai dari pekerja seni, tukang sound hajatan, pedagang, ojek, dan   yang tak kalah merasakan imbasnya adalah dunia pendidikan, sebagai seorang warganet dan pemerhati lini massa saya melihat pemerintah sudah bekerja keras dengan   melakuan segala macam cara, mulai pemberian paket internet kepada siwa guna mempermudah proses pembelajaran via daring, bantuan sosial dan sebagainya. Setelah melewati hampir tiga bulan lebih   pendidikan kita masih tetap mengandalakn proses belajar dari rumah, baik dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi negeri, dan apakah   mereka rindu ...

Diskon Keadilan: 6,5 Tahun

Panggung keadilan negeri ini kembali menyuguhkan drama yang lebih mengguncang daripada sinetron prime time. Kali ini, Harvey Moeis, seorang pengusaha sekaligus suami dari artis ternama Sandra Dewi, sukses mendapatkan "promo akhir tahun" berupa hukuman hanya 6,5 tahun penjara atas dugaan korupsi dana sebesar 300 triliun rupiah . Sebuah angka yang cukup untuk menutupi defisit APBN, tapi malah menjadi tiket emas untuk "liburan berfasilitas eksklusif." Bayangkan, dana sebesar itu bisa membangun puluhan rumah sakit, ribuan sekolah, atau bahkan menggaji ribuan guru honorer hingga tuntas. Tapi sayangnya, rakyat kecil hanya bisa gigit jari, sementara sang pelaku menikmati hasil jerih payah "dana abadi" rakyat. Adakah yang lebih ironis dari ini? 1.        Keadilan ala Negeri Dongeng Seperti di negeri dongeng, keadilan di negara ini terasa seperti cerita fiksi. Untuk mereka yang punya nama besar dan hubungan erat, hukum menjadi elastis—mudah dilenturkan. Band...