Gemuruh angin dan mendung mengambang diatas ubun ubunku
nyatanya hujan turun di bulan januari..
di tengah gerimis yang menjelma menjadi hujan
ia berlalu dengan payung hitam itu.
dada yang teramat sesak..
teramat samar antara hujan yang bercampur tiap tetesan
bagaimana mungkin ?
benang yang terajut hanyut dalam barisan aliran ke nistaan
langit meradam gelap menjadi bahasa melukis diatas kepingan jiwa yang tak lagi tertata
apa engkau kan tau.
penahanan terhadap kedap begitu amat menyesak
seperti tunas yang kian kan tumbuh lalu terinjak
tanpa biarkan mekar membwa harum
ditas langit saksi membwa air mata langit
semua akan melayu di hujan sore ini
iya di januari.ini.
di tengah gerimis yang tidak mau berhenti.
Saya mulai dari sebuah unek-unek yang seperti rajutan benang tumpang tindih, bahwa saya tumbuh dan besar dengan ketakutan terhadap sekolah dan guru, terlebih bila dihadapkan pelajaran seperti matematika, kimia dan fisika membuat hari-hari sekolah serasa memasuki film “ final Destination” mengerikan..! Pada SMA aku masuk jurusan IPS yang selau di cap berisik dan suka bikin onar dan sampai titik ini ketakuttanku dengan sekolah dan guru sudah nyaris tidak ada, tapi matematika masih menjelma bak boneka Annabelle, membuat merinding dan ingin lari saja. SMA dengan berbagai hal dan kisah menarik yang aku alami bersama teman-teman, guru, cewe yang aku sukai namun tak pernahi sampai, penjaga kantin sampai tukang jual pentol yang stay di masjid saat jam istirhat, pada fase inilah aku mulai menyusun dan melihat jika nanti sudah lulus mau apa dan jadi apa?.. dan aku menyadari pilihan-pilihan itu lebih sulit dan lebih menakutkan dibandingkan ruwetnya rumus matema...

Comments
Post a Comment