Desember di penghujung tahun, Surabaya nampaknya sedikit mendung berbeda dengan sebelumnya, hari ini entah hari keberapa ia terbangun, tapi ia masih merasakan sakit, pandanganya sesekali teralih pada sudut kamar melihat rak buku kusam penuh debu dan bau seperti lama tak pernah terawat, di dalamnya ada deretan album foto dan buku yang masih tersimpan rapi. Seperti ia benar- benar mati rasa. Mungkin kalau tidak salah Ini menjadi ketigakalinya ia mati. Tapi apakah itu benar " ? Pikirku saat melihatnya", Aku mendengar ditengah kondisinya kini seorang berdoa untuknya agar tetap hidup. Meskipun ceritanya seperti cerita peperangan yang konyol. Masih terbayang di benak saya itu seperti membawa pada kematianku yang kelima.
Saya mulai dari sebuah unek-unek yang seperti rajutan benang tumpang tindih, bahwa saya tumbuh dan besar dengan ketakutan terhadap sekolah dan guru, terlebih bila dihadapkan pelajaran seperti matematika, kimia dan fisika membuat hari-hari sekolah serasa memasuki film “ final Destination” mengerikan..! Pada SMA aku masuk jurusan IPS yang selau di cap berisik dan suka bikin onar dan sampai titik ini ketakuttanku dengan sekolah dan guru sudah nyaris tidak ada, tapi matematika masih menjelma bak boneka Annabelle, membuat merinding dan ingin lari saja. SMA dengan berbagai hal dan kisah menarik yang aku alami bersama teman-teman, guru, cewe yang aku sukai namun tak pernahi sampai, penjaga kantin sampai tukang jual pentol yang stay di masjid saat jam istirhat, pada fase inilah aku mulai menyusun dan melihat jika nanti sudah lulus mau apa dan jadi apa?.. dan aku menyadari pilihan-pilihan itu lebih sulit dan lebih menakutkan dibandingkan ruwetnya rumus matema...
diksinya enak, sampean gawe novel/cerpen apik mas
ReplyDelete