Desember di penghujung tahun, Surabaya nampaknya sedikit mendung berbeda dengan sebelumnya, hari ini entah hari keberapa ia terbangun, tapi ia masih merasakan sakit, pandanganya sesekali teralih pada sudut kamar melihat rak buku kusam penuh debu dan bau seperti lama tak pernah terawat, di dalamnya ada deretan album foto dan buku yang masih tersimpan rapi. Seperti ia benar- benar mati rasa. Mungkin kalau tidak salah Ini menjadi ketigakalinya ia mati. Tapi apakah itu benar " ? Pikirku saat melihatnya", Aku mendengar ditengah kondisinya kini seorang berdoa untuknya agar tetap hidup. Meskipun ceritanya seperti cerita peperangan yang konyol. Masih terbayang di benak saya itu seperti membawa pada kematianku yang kelima.
Surabaya. Selepas mengusir dahaga dengan es teh sayu-sayu terdengar lantunan sayir “ ono tangis kelayung-layung tangise wong kang wedi mati “ lantunan singkat tembang jawa tersebut membawaku pada pelamunan amat dalam mengenai kehidupan” ya betapa amat mahalnya syair tersebut, sehingga sengaja membuat saya menulis di blog ini agar syair tersebut tidak lenyap, kikis dimakan perubahan zaman. Semoga bisa menjadi perenungan, pelajaran dan membuat kita untuk “ iling”. Berikut beberpa kumpulan syair (tembang) agar kita selalu ingat akan mati dalam versi jawa. Eling-Eling Wong Urip Bakale Mati Alohumma Sholli Wa Salim ‘Ala, Sayidina Wa Maulana Muhammadin …… Eling-Eling Wong Urip Bakale Mati Ojo Bungah Ono Dunyo Mulyo Mukti Ngluru ‘Ilmu Lan Ngibadah Ingkang Yekti Ngluru ‘Amal Wiwit Urip Tumeko Mati Wajib Pasrah Wong Asor Maring Pengeran Sarto Nderek Nabi Kang Dadi Pungkasan Rukune Islam Iku Limang Perkoro Ingkang Ndingin Ngucapaken Syahadat L...
diksinya enak, sampean gawe novel/cerpen apik mas
ReplyDelete